Ledakan Data Center Indonesia: Dari 580 MW Menuju 3,5 GW, Saham Mana yang Paling Menarik?
Jika ada satu tema struktural yang berpotensi menjadi salah satu cerita investasi terbesar di sektor infrastruktur digital Indonesia dalam beberapa tahun ke depan, data center layak masuk dalam daftar teratas.
Ini bukan sekadar cerita tentang server atau penyimpanan data. Data center merupakan infrastruktur dasar bagi cloud computing, artificial intelligence (AI), fintech, e-commerce, streaming, gaming, perusahaan digital hingga berbagai layanan pemerintahan.
Yang membuat ceritanya semakin menarik adalah Indonesia masih berada pada tahap awal pembangunan kapasitas data center.
Menurut riset BRI Danareksa Sekuritas, kapasitas IT data center Indonesia sekitar 580 MW pada semester I 2026. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 3,5 GW pada 2030. Artinya, kapasitas industri berpotensi meningkat sekitar enam kali lipat dalam beberapa tahun ke depan.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah data center akan tumbuh.
Pertanyaannya adalah: emiten mana yang paling banyak mendapatkan manfaat dari pertumbuhan tersebut?
Mengapa Indonesia Membutuhkan Data Center dalam Jumlah Besar?
Sederhananya, semakin banyak aktivitas berpindah ke dunia digital, semakin besar pula kebutuhan terhadap infrastruktur komputasi.
Bayangkan aktivitas seperti:
- Transaksi perbankan
- E-commerce
- Pembayaran digital
- Video streaming
- Cloud computing
- Aplikasi perusahaan
- Artificial intelligence
- Machine learning
- Gaming
- Layanan pemerintah digital
- Penyimpanan database perusahaan
Semua membutuhkan server.
Server tersebut harus ditempatkan di fasilitas yang memiliki listrik stabil, sistem pendingin, keamanan fisik, konektivitas internet, sistem backup dan kemampuan beroperasi 24 jam.
Itulah data center.
Namun ada satu perubahan besar yang membuat kebutuhan data center semakin agresif:
AI membutuhkan GPU dalam jumlah besar. GPU membutuhkan daya listrik dan sistem pendingin jauh lebih besar dibandingkan beban komputasi tradisional.
Karena itu, perkembangan AI secara global secara tidak langsung menciptakan permintaan baru terhadap data center.
Pada Agustus 2026, CoreWeave bahkan mengumumkan ekspansi ke Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai lokasi data center pertamanya di kawasan Asia-Pasifik.
Indonesia Bisa Menjadi Tujuan Limpahan Data Center Asia
Salah satu alasan Indonesia menarik adalah keterbatasan kapasitas di beberapa pusat data center Asia Tenggara.
Singapura sudah menjadi hub data center regional, tetapi keterbatasan lahan dan energi membuat ekspansi semakin sulit.
Malaysia, khususnya Johor, kemudian menjadi salah satu lokasi penerima limpahan permintaan tersebut.
Namun pertumbuhan permintaan yang sangat besar membuat Indonesia berpotensi menjadi tahap berikutnya.
Indonesia memiliki:
- Lahan yang relatif lebih luas
- Populasi besar
- Kebutuhan digital domestik yang tinggi
- Sumber energi yang besar
- Konektivitas kabel bawah laut
- Kawasan industri
- Biaya pembangunan yang relatif kompetitif
UOB Kay Hian menilai Indonesia berada dalam posisi untuk menangkap limpahan permintaan data center regional, terutama karena keterbatasan kapasitas di Singapura dan Malaysia.
Jakarta vs Batam: Dua Lokasi Penting
Pertumbuhan data center Indonesia tidak hanya terjadi di Jakarta.
Saat ini terdapat dua lokasi yang sangat menarik untuk diperhatikan.
1. Jakarta dan Sekitarnya
Jakarta tetap menjadi pusat permintaan karena dekat dengan:
- Perusahaan
- Perbankan
- Pemerintahan
- Pelanggan enterprise
- Pusat ekonomi
- Pengguna internet
Riset BRI Danareksa memperkirakan Jakarta memiliki sekitar 322 MW kapasitas live dengan pipeline sekitar 1,7 GW.
2. Batam
Batam memiliki posisi geografis yang menarik karena dekat dengan Singapura.
Wilayah ini berpotensi menjadi salah satu alternatif ketika pengembangan data center di Singapura semakin terbatas.
Batam memiliki sekitar 126 MW kapasitas operasional dan pipeline sekitar 1,4 GW menurut riset yang sama.
Artinya, Batam bukan sekadar cerita kawasan industri.
Dalam beberapa tahun ke depan, Batam berpotensi berkembang menjadi salah satu pusat data center regional.
Tetapi Data Center Bukan Cuma Bisnis DCII
Ini bagian yang sering dilewatkan investor.
Ketika mendengar tema data center, banyak investor langsung berpikir:
"Beli saham DCII."
Padahal secara ekonomi, pembangunan data center menciptakan rantai bisnis yang jauh lebih panjang.
Lahan → Listrik → Konstruksi → Gedung → Server → Pendinginan → Fiber Optic → Konektivitas → Maintenance → Operasional
Karena itu, penerima manfaatnya dapat dibagi menjadi beberapa kelompok.
1. Pemilik Data Center: Eksposur Paling Langsung
Kelompok pertama tentu adalah perusahaan yang benar-benar mengoperasikan data center.
DCII — DCI Indonesia
PT DCI Indonesia Tbk menjadi salah satu pure-play data center paling jelas di BEI.
DCII telah mengoperasikan beberapa fasilitas dengan total kapasitas sekitar 128 MW.
Yang menarik bukan hanya kapasitas saat ini, tetapi potensi ekspansinya.
Menurut laporan yang dikutip Katadata, H1 Campus Cibitung yang saat ini sekitar 73 MW berpotensi diperbesar hingga 220 MW.
H2 Campus Karawang yang sekitar 27 MW memiliki potensi pengembangan hingga lebih dari 600 MW.
Sementara H3 DC Park Sky Bintan memiliki potensi kapasitas hingga lebih dari 1.000 MW.
Intinya: kapasitas DCII hari ini belum tentu menggambarkan ukuran bisnisnya beberapa tahun ke depan.
Namun ada satu masalah besar:
Valuasi
Semakin besar ekspektasi pertumbuhan, semakin tinggi pula harga yang biasanya harus dibayar investor.
Jadi DCII merupakan saham dengan eksposur data center paling langsung, tetapi bukan berarti otomatis menjadi saham dengan risiko paling rendah.
2. TLKM — Data Center + Telco + Fiber
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menawarkan pendekatan yang berbeda.
Melalui NeutraDC dan bisnis terkait, Telkom tidak hanya memiliki data center tetapi juga jaringan telekomunikasi yang menjadi infrastruktur penting ekosistem digital.
Telkom menargetkan kapasitas NeutraDC mencapai sekitar 300 MW pada 2030.
Presentasi perusahaan menunjukkan bisnis data center Telkom telah memiliki kapasitas efektif sekitar 49,9 MW pada akhir 2025, dengan ekspansi di Cikarang, Batam dan Singapura.
Kelebihan TLKM adalah investor tidak hanya membeli cerita data center.
Investor juga mendapatkan:
- Bisnis mobile
- Fixed broadband
- Fiber optic
- Tower exposure
- Enterprise
- Data center
- Cloud
- Digital infrastructure
Karena itu, TLKM bisa dianggap sebagai cara yang lebih terdiversifikasi untuk memainkan tema digital infrastructure Indonesia.
3. ISAT — Data Center + AI
PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk juga semakin menarik dalam tema ini.
Indosat memiliki bisnis data center melalui kerja sama dengan BDx Indonesia.
Namun yang membuat ceritanya semakin menarik adalah masuknya Indosat lebih jauh ke ekosistem AI.
Indosat bersama NVIDIA dan Nokia mengembangkan Zankore by Indosat, sebuah AI Factory.
Targetnya adalah membangun kapasitas AI Factory hingga sekitar 200 MW pada 2027.
Artinya, ISAT bukan hanya bertaruh pada pertumbuhan traffic internet.
Perusahaan juga mulai masuk ke lapisan infrastruktur AI.
4. DSSA — Data Center + Energi
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk memiliki posisi unik.
DSSA masuk ke bisnis data center dan infrastruktur AI melalui ekosistemnya.
Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah SMX01, dengan kapasitas awal sekitar 18 MW dan potensi pengembangan hingga sekitar 60 MW.
Yang menarik adalah kombinasi bisnisnya.
Energi + Infrastruktur + Data Center + Digital
Ini penting karena salah satu masalah terbesar industri data center bukan sekadar mencari pelanggan.
Melainkan:
mencari listrik dalam jumlah sangat besar.
5. Kawasan Industri: DMAS, SSIA, BEST, KIJA
Di sinilah tema data center mulai menarik bagi investor saham yang menyukai bisnis asset-heavy dan cash flow.
Data center membutuhkan tanah.
Dan tanah harus berada di lokasi yang:
- Dekat jaringan listrik
- Dekat fiber
- Memiliki akses jalan
- Memiliki infrastruktur
- Memiliki izin
- Idealnya berada dekat pusat ekonomi
Karena itu, pemilik kawasan industri bisa mendapatkan manfaat besar.
DMAS
PT Puradelta Lestari Tbk menjadi salah satu nama yang paling menarik dalam kategori ini.
Kawasan industri Kota Deltamas memiliki lokasi strategis dan telah mendapatkan perhatian besar dari sektor data center.
Bagi investor, menariknya DMAS adalah kita tidak perlu membeli perusahaan data center secara langsung.
Penjualan Lahan → Pembangunan Data Center → Peningkatan Nilai Kawasan → Potensi Recurring Ecosystem
Karena itu DMAS merupakan salah satu saham yang layak diperhatikan dalam tema data center, meskipun perusahaan tersebut bukan operator data center.
Selain DMAS, investor juga dapat memantau:
UOB Kay Hian juga memasukkan saham-saham kawasan industri sebagai pihak yang berpotensi mendapatkan manfaat dari meningkatnya kebutuhan lahan data center.
6. Listrik: Hidden Winner Data Center
Ini justru salah satu bagian paling menarik.
Data center membutuhkan listrik dalam jumlah besar.
Semakin banyak AI digunakan, semakin besar kebutuhan listriknya.
AI → GPU → Data Center → Listrik
Karena itu, perusahaan energi berpotensi ikut mendapatkan manfaat.
Beberapa saham yang dapat dipantau antara lain:
POWR
PT Cikarang Listrindo Tbk.
Memiliki bisnis pembangkitan listrik dan beroperasi di kawasan industri.
Posisinya menarik karena data center dan kawasan industri sama-sama membutuhkan listrik dengan reliabilitas tinggi.
PGEO
PT Perusahaan Gas Negara Tbk.
Eksposur energi terbarukan menjadi semakin relevan karena hyperscaler dan perusahaan teknologi global semakin memperhatikan aspek sustainability.
BREN
PT Barito Renewables Energy Tbk.
Menawarkan eksposur terhadap energi terbarukan.
ARKO
PT Arkora Hydro Tbk.
Juga dapat dipandang sebagai bagian dari rantai pasok energi yang berpotensi mendapatkan manfaat dari meningkatnya kebutuhan listrik.
UOB Kay Hian secara khusus memasukkan POWR, BREN, PGEO dan ARKO sebagai pihak yang dapat memperoleh manfaat dari meningkatnya kebutuhan listrik akibat ekspansi data center.
7. Kontraktor: TOTL dan Teman-Temannya
Data center tidak muncul begitu saja.
Harus dibangun.
Artinya dibutuhkan:
- Struktur bangunan
- Mechanical
- Electrical
- Cooling
- Security
- Fire protection
- Power system
- Berbagai pekerjaan konstruksi lainnya
Karena itu kontraktor juga bisa mendapatkan bagian dari siklus investasi ini.
TOTL
PT Total Bangun Persada Tbk.
TOTL memiliki pengalaman dalam proyek konstruksi gedung dan dapat memperoleh manfaat ketika pembangunan fasilitas data center semakin agresif.
Namun perlu diperhatikan: kontraktor tidak menikmati economics yang sama seperti pemilik data center.
Operator data center bisa mendapatkan recurring revenue selama bertahun-tahun.
Kontraktor biasanya mendapatkan revenue terutama ketika proyek dibangun.
Jadi karakter investasinya berbeda.
8. Fiber Optic: Jalan Tolnya Data
Data center tanpa konektivitas tidak akan banyak berguna.
Bayangkan data center sebagai gudang.
Fiber optic adalah jalan tol yang menghubungkan gudang tersebut dengan pengguna.
Semakin banyak data center:
Beberapa saham yang dapat diperhatikan:
- TLKM
- ISAT
- TOWR
- MTEL
- MORA
- KETR
- INET
UOB Kay Hian juga memasukkan sejumlah operator fiber dan connectivity sebagai penerima manfaat dari meningkatnya traffic dan utilisasi jaringan akibat ekspansi data center.
Bagaimana Memetakan Saham Data Center?
Daripada membuat daftar saham secara acak, lebih baik menggunakan piramida eksposur.
LEVEL 1
Paling Langsung
DCII — Operator data center pure-play. Potensi besar, tetapi valuasi dan ekspektasi pasar harus menjadi perhatian utama.
LEVEL 2
Direct + Diversified
TLKM, ISAT, DSSA — Memiliki eksposur langsung terhadap data center tetapi bisnisnya lebih terdiversifikasi.
LEVEL 3
Infrastruktur Pendukung
DMAS, SSIA, BEST, KIJA — Mendapatkan manfaat dari kebutuhan lahan dan kawasan industri.
LEVEL 4
Power
POWR, BREN, PGEO, ARKO — Menjadi penerima manfaat dari kebutuhan listrik.
LEVEL 5
Construction
TOTL — Mendapatkan peluang dari pembangunan fasilitas.
LEVEL 6
Connectivity
TOWR, MTEL, MORA, KETR, INET — Mendapatkan manfaat dari meningkatnya kebutuhan konektivitas.
Lalu Mana yang Paling Menarik?
Kalau tujuan kita bukan sekadar mencari saham yang "ada hubungannya" dengan data center, tetapi mencari kombinasi antara eksposur, kualitas bisnis dan potensi monetisasi, saham-saham tersebut bisa dikelompokkan berdasarkan karakter bisnisnya.
| Saham | Eksposur | Karakter |
|---|---|---|
| DCII | ⭐⭐⭐⭐⭐ | Pure-play / Growth |
| TLKM | ⭐⭐⭐⭐ | Diversified Digital Infrastructure |
| ISAT | ⭐⭐⭐⭐ | Telco + AI + Data Center |
| DSSA | ⭐⭐⭐⭐ | Energy + Data Center |
| DMAS | ⭐⭐⭐⭐ | Industrial Estate / Land |
| POWR | ⭐⭐⭐ | Power |
| TOTL | ⭐⭐⭐ | Construction |
| TOWR / MTEL | ⭐⭐⭐ | Connectivity |
| SSIA / BEST / KIJA | ⭐⭐–⭐⭐⭐ | Industrial Estate |
| BREN / PGEO / ARKO | ⭐⭐–⭐⭐⭐ | Power / Renewable |
Catatan: Pengelompokan tersebut bukan berarti ranking beli.
Pada akhirnya, harga saham tetap menjadi faktor penting. Perusahaan dengan prospek bisnis yang sangat bagus belum tentu menjadi investasi yang menarik apabila valuasinya sudah terlalu mahal.
Jangan Terjebak "Data Center = Pasti Naik"
Ini bagian paling penting.
Tema data center memang menarik.
Tetapi ada beberapa risiko besar.
1. Valuasi
Perusahaan dengan pertumbuhan tinggi biasanya dihargai mahal oleh pasar.
Kalau ekspektasi terlalu tinggi, pertumbuhan bisnis yang bagus belum tentu menghasilkan return saham yang bagus.
2. Ketersediaan Listrik
Data center membutuhkan listrik dalam jumlah besar.
Jika pembangunan pembangkit dan jaringan listrik tidak mengikuti pertumbuhan data center, ekspansi bisa terhambat.
UOB Kay Hian juga menyoroti keterbatasan power headroom sebagai salah satu risiko utama industri data center Indonesia.
3. Air dan Pendinginan
AI data center menggunakan sistem pendinginan yang semakin kompleks.
Semakin padat GPU, semakin besar kebutuhan cooling.
Artinya selain listrik, air dan sistem pendingin juga menjadi faktor penting.
4. Capex Sangat Besar
Membangun hyperscale data center membutuhkan investasi besar.
Perusahaan harus mengeluarkan modal terlebih dahulu sebelum memperoleh recurring revenue.
Karena itu investor harus memperhatikan:
- Utang
- Capex
- Free cash flow
- Debt-to-equity
- Occupancy
- Contracted capacity
- Return on invested capital
Yang Harus Dilihat Investor Bukan Hanya "MW"
Ada kesalahan umum dalam membaca bisnis data center.
Investor melihat:
"Perusahaan punya pipeline 1.000 MW."
Lalu langsung menyimpulkan perusahaan tersebut sangat bagus.
Belum tentu.
Pipeline bukan berarti revenue.
Yang jauh lebih penting adalah:
1. Capacity
Berapa MW yang sudah tersedia?
2. Occupancy
Berapa persen yang sudah terisi?
3. Contracted Capacity
Berapa kapasitas yang sudah dikontrak pelanggan?
4. Pricing
Berapa harga yang bisa dikenakan per MW?
5. Capex
Berapa biaya membangun setiap MW?
6. Funding
Dari mana uang pembangunan berasal?
7. ROIC
Apakah modal yang ditanam menghasilkan return yang menarik?
8. Power Availability
Apakah listrik benar-benar tersedia?
Mengapa 2026–2030 Bisa Menjadi Periode Penting?
Karena kita sedang melihat kombinasi beberapa tren sekaligus.
Cloud computing
+
AI
+
Digitalisasi perusahaan
+
Pertumbuhan ekonomi digital
+
Relokasi kapasitas dari negara dengan keterbatasan energi/lahan
Data center Indonesia yang sekitar 580 MW pada 1H26 dan proyeksi 3,5 GW pada 2030 menunjukkan betapa besarnya ruang ekspansi tersebut.
Kalau proyeksi tersebut terealisasi, maka yang tumbuh bukan hanya operator data center.
Lahan → Listrik → Konstruksi → Fiber → Cooling → Maintenance → Cloud → AI Infrastructure
Bagaimana Strategi Investor Ritel?
Menurut saya, jangan melihat tema ini sebagai:
"Saham data center mana yang akan naik?"
Lebih menarik jika pertanyaannya diubah menjadi:
"Bagian mana dari rantai ekonomi data center yang paling menguntungkan dan siapa yang memiliki keunggulan kompetitif?"
Untuk investor agresif, DCII memberikan eksposur paling langsung.
Untuk investor yang ingin kombinasi digital infrastructure dan bisnis yang lebih terdiversifikasi, TLKM dan ISAT lebih menarik untuk diperhatikan.
Untuk pendekatan energy + infrastructure, DSSA menarik dipelajari.
Untuk pendekatan "jual tanah kepada data center", DMAS menjadi salah satu nama yang sangat relevan.
Sementara POWR, TOTL, TOWR, MTEL dan saham kawasan industri lainnya bisa menjadi pilihan untuk memainkan efek domino dari ekspansi tersebut.
Kesimpulan
Cerita data center Indonesia sebenarnya jauh lebih besar daripada sekadar DCII.
Kita sedang melihat pembangunan sebuah ekosistem infrastruktur digital baru.
Di ujung depan terdapat:
AI dan cloud.
Di tengah terdapat:
data center.
Di belakangnya terdapat:
listrik, fiber optic, kawasan industri, konstruksi, cooling dan infrastruktur pendukung.
Karena itu, investor tidak harus selalu membeli operator data center untuk mendapatkan manfaat dari pertumbuhan industri ini.
Jika kapasitas Indonesia benar-benar bergerak dari sekitar 580 MW menuju 3,5 GW pada 2030, maka kebutuhan modal, lahan, listrik dan konektivitas akan sangat besar.
Dan justru di sinilah peluang investasinya menjadi menarik.
- DCII menawarkan eksposur paling langsung.
- TLKM, ISAT dan DSSA menawarkan kombinasi data center dengan bisnis lain.
- DMAS dan kawasan industri lainnya bermain dari sisi tanah.
- POWR, BREN, PGEO dan ARKO bermain dari sisi energi.
- TOTL dari sisi konstruksi.
- TOWR, MTEL, MORA, KETR dan INET mendapatkan peluang dari kebutuhan konektivitas.
Data center bukan satu industri.
Data center adalah sebuah ekosistem.
Dan bagi investor, memahami siapa yang mendapatkan uang dari setiap bagian ekosistem tersebut jauh lebih penting daripada sekadar mengejar saham yang sedang diberi label "AI".
Disclaimer
Artikel ini bersifat edukasi dan bukan rekomendasi jual/beli saham. Setiap keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan valuasi, laporan keuangan, prospek bisnis, risiko dan profil masing-masing investor.